Dukung Program Inovasi Desa dengan Visualisasi Data

Suasana FGD Visualisasi Data dan Informasi Mendukung Program Inovasi Desa di Hotel Novotel, Banjarbaru, Selasa (5/11/2019). MC Kalsel/scw

Badan Penelitian dan Pengembangan, Pendidikan, Pelatihan, dan Informasi (Balilatfo) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Visualisasi Data dan Informasi Mendukung Program Inovasi Desa (PID) di Hotel Novotel, Banjarbaru, Selasa (5/11/2019).

Kegiatan dihadiri 30 anggota Perangkat Desa Tiwingan Lama, Kecamantan Aranio, Kabupaten Banjar dan dibuka secara resmi oleh Sekretaris Balilatfo, Jajang Abdullah.

Dalam sambutannya, Jajang mengharapkan kegiatan tersebut bisa menghasilkan rumusan dan menentukan visualisasi suatu daerah serta bisa saling berbagi informasi.

“Nanti kalau sudah disepakati mungkin dari PUSDATIN ada memiliki penilaian sendiri, yang nantinya akan divisualisasikan untuk 14 kementerian,” ucap Jajang.

Menurutnya, sumber daya yang ada di Kabupaten Banjar yang bisa diangkat untuk divisualisasikan berkaitan erat dengan akademi desa yang merupakan salah satu pembelajaran dari hasil video-video keberhasilan suatu daerah.

“Jadi, sekarang harus buat visual-visualnya, agar bisa membuat video-video keberhasilan dari daerah yang sudah memiliki inovasi agar nanti dijadikan bahan modul pembelajaran melalui visualisasi,” ujar Jajang.

Sementara itu, Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Desa, Ivanovich Agusta mengatakan kegiatan tersebut dimaksudkan untuk mendokumentasikan berbagai inovasi yang ada di desa-desa sehingga bisa dijadikan contoh bagi desa lainnya.

“Kemudian akan dijadikan contoh bagi desa-desa yang lain. Ada 14 inovasi nantinya yang akan dijadikan contoh untuk seluruh Indonesia,” ungkap Agusta.

Lebih lanjut Agusta menerangkan, PID mencakup seluruh upaya mendokumentasikan inovasi dari desa-desa diseluruh Indonesia. Secara efektif PID baru berjalan di akhir tahun 2017, dan ada 12.000 inovasi yang disampaikan di dalam bursa inovasi desa pada saat itu, inovasi tersebut kemudian diadopsi oleh 6000 desa di Indonesia.

“Sedangkan di 2018 itu terjadi peningkatan inovasi menjadi 30.000 inovasi sementara yang mengadopsi inovasi sebanyak 70.000 desa. Maka untuk Di 2018 bursa inovasi desa itu membutuhkan dana sekitar 400 milyar, kemudian di 2019 APBDes dari seluruh Indonesia,” terang Agusta.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kalimantan Selatan, Zulkifli mengatakan tujuan FGD tidak lain agar dana desa bisa dimanfaatkan secara maksimal sehingga berdampak pada peningkatan kualitas masyarakat desa.

“Ini dalam rangka mendorong pemanfaatan dana desa secara maksimal agar diharapkan dengan inovasi desa, dana desa itu nantinya bisa meningkatkan kualitas masyarakat desa itu sendiri,” jelas Zulkipli.

Lebih lanjut Zulkipli mengungkapkan, setiap inovasi desa setidaknya harus mengacu kepada data-data yang dimiliki desa tersebut. Yang cukup menonjol, Desa Tiwingan Lama termasuk 10 desa dari 28 desa yang diverifikasi oleh Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa.

“Saya berharap para wisatawan bisa bolak balik melihat dan datang ke wisata di Tiwingan Lama, oleh karenanya di harapkan Tiwingan Lama terus dikembangkan untuk menarik wisatawan,” tutup Zulkipli. MC Kalsel/scw

Artikel telah dilihat : 65 kali.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *