Cegah Stunting, BKKBN Kalsel Gelar Pendidikan Kependudukan

Deputi Bidang Pelatihan, Peneliti dan Pengembangan BKKBN Pusat, Muhammad Rijal Martua Damanik menyampaikan sambutan pada Pemanfaatan Parameter Kependudukan dan Integrasi Materi Kependudukan dalam Pendidikan di Aula Kantor BKKBN Kalsel, Banjarmasin, Jum’at (25/10/2019). MC Kalsel/tgh

Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kalsel menggelar Pemanfaatan Parameter Kependudukan dan Integrasi Materi Kependudukan dalam Pendidikan di Aula Kantor BKKBN Kalsel, Banjarmasin, Jum’at (25/10/2019).

Kegiatan berlangsung selama dua hari terhitung dari tanggal 25-26 Oktober 2019 dengan mengusung tema Pentingnya Pendidikan Kependudukan bagi para Siswa dalam rangka Menghadapi Bonus Demografi dan Menyiapkan Pemuda dalam Pembangunan Karakter Bangsa.

Deputi Bidang Pelatihan, Peneliti dan Pengembangan BKKBN Pusat, Muhammad Rijal Martua Damanik mengatakan dalam pertemuan tersebut para guru yang ada di Kalsel akan membahas bagaimana mengintegrasikan isu-isu kependudukan dalam kurikulum pendidikan.

“Jadi kegiatan Ini cukup strategis, karena guru-guru ini memiliki banyak siswa, sementara kondisi di Kalsel salah satu provinsi yang masih tinggi kasus stuntingnya,” ujarnya

Ia mengharapkan sesudah mengikuti kegiatan tersebut para guru mampu memberi semangat kepada siswa dan juga orang tua siswa, agar ikut berperan dalam mencegah stunting.

Selain itu, Ia mengungkapkan pernikahan anak usia dini yang cukup tinggi di Kalsel memiliki dampak yang kurang baik untuk kesehatan. “Karena mereka wanita yang melangsungkan pernikahan di bawah usia 20 tahun, dari segi organ reproduksinya belum siap. Dampak mereka nanti wanitanya akan menderita kanker rahim,” ungkapnya.

Tak hanya itu saja, menurut Rijal dampak lainnya juga akan dialami bayi yang dikandung, karena usia di bawah 20 tahun masih usia tumbuh dan kembang, sehingga asupan gizi yang masuk tidak semata-mata untuk si calon bayi tapi juga si ibu.

“Kalau masuknya mencukupi, itu tetap dibagi dua. Apalagi kalau yang masuk itu kurang jumlahnya. Stunting itu adalah kurang gizi kronis, jadi kalau kebutuhan ibu hamil kurang sebabnya ibu-ibu yang menikah usia anak berpotensi melahirkan bayi stunting,” paparnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, kalau rantai tersebut tidak diputus akan berbahaya bagi Indonesia, termasuk Kalsel. “Jadi memotongnya adalah bagaimana generasi muda, murid-murid bapak ibu guru, jangan terburu- buru menikah kalau belum siap secara lahir dan batin,” tukasnya.

Sementara itu, Ketua Harian Ikatan Guru Indonesia Kalsel, Gusti Suryan mengatakan secara nasional, 30 persen kelahiran anak mengalami stunting. Sedangkan Kalsel menempati peringkat yang tinggi untuk pernikahan dini.

“Jadi disinilah peran guru untuk menyampaikan kepada siswanya di sekolah agar kedepannya untuk tidak dulu nikah dini,” ujarnya.

Selain guru, peran orang tua dalam mendidik anak juga sangat penting, agar kedepannya setelah lulus dari SMP, SMA tidak buru-buru untuk menikah dini.

“Untuk itu Ikatan Guru Indonesia Kalsel telah bekerja sama dengan BKKBN Kalsel untuk memberikan pendidikan kepada guru-guru seperti pertumbuhan penduduk, jumlah penduduk yang besar memberikan kesempatan yang terbatas bagi mereka, serta bagaimana mengelola remaja yang baik. MC Kalsel/tgh

Artikel telah dilihat : 57 kali.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *