Kalsel Bantu Ketahanan Pangan Nasional

Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Kalsel, Faried Fahmansyah. Mc Kalsel / Fuz

Provinsi Kalsel boleh berbangga, selain menjadi penyumbang energi nasional melalui kekayaan batubara, provinsi ini juga menjadi penyangga pangan nasional.

Betapa tidak, Provinsi Kalsel saat ini bisa menyumbang padi ke provinsi lain sebesar 1,7 juta ton per tahun.

Sebagaimana diutarakan Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Kalsel, Faried Fahmansyah saat menjadi narasumber kegiatan “Ngupi Bareng Paman” di ruang kelas Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDM) provinsi, Jumat (26/7), produksi padi di Kalsel mencapai angka 2,4 juta ton, sedangkan konsumsi masyarakat hanya 700 ribu ton.

“Ketersediaan pangan yang tersisa itulah yang didistribusikan ke provinsi-provinsi lain sebagai sharing untuk menutupi kekurangan produksi padi daerah lain,” ujarnya.

Dijelaskan Faried, produksi padi di Kalsel masih mengandalkan jenis unggul dan lokal. Ke dua jenis padi ini, ujarnya, tidak bisa dihilangkan salah satunya, sebab kebiasaan masyarakat Kalsel mengonsumsi beras lokal yang agak keras. “Kita juga tidak bisa menanam padi lokal semua, karena beras unggul yang bisa dikirim ke luar daerah.

Kebiasaan masyarakat luar mengonsumsi beras unggul yang lebih pulen. Jadi kedua jenis beras ini harua berimbang dihasilkan, sebagian untuk masyarakat Kalsel sebagian dikirim ke luar membantu ketahanan pangan nasional,” bebernya.

Faried menyebut produksi padi di Kalsel terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hal itu tidak lepas dari program terobosan baik pemerintah kabupaten/kota, provinsi, dan pemerintah pusat yang salah satunya melalui program selamatkan rawa sejahterakan petani (serasi).

“Gagasan Gubernur Paman Birin yaitu revolusi hijau, menanam, menanam, dan menanam untuk anak cucuk juga menjadi motivasi kami untuk terus menjaga ketahanan pangan,” tegasnya.

Kendati demikian, Faried menyebut ke depan pihaknya tetap membuat program pengurangan ketergantungan dengan beras dan meningkatkan konsumsi non beras, sebab menurutnya jika hanya bergantung dengan beras sangat rawan dengan ketersediaan.

“Upaya pengurangan ketergantungan beras ini tahapan sudah dilaksanakan beberapa waktu lalu, misalnya makan bisa dengan ubi-ubian, kacang-kacanganan, tepung-tepungaan sehingga memperkuat ketahanan pangan kita, produksi kita di sektor tersebut juga cukup bagus,” katanya. Press Room – Mc Kalsel

Artikel telah dilihat : 71 kali.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *