Kesenian Daerah Tetap Eksis di Era Modern

Kepala UPTD Taman Budaya Provinsi Kalsel, Suharyanti memberikan keterangan mengenai kesenian tradisional pada saat ditemui jurnalis Media Center di kantor setempat, Kamis (23/5/2019). MC Kaksel/tgh

Kesenian tradisional Banjar adalah suatu hasil ekspresi hasrat manusia akan keindahan dengan latar belakang tradisi atau sistem budaya masyarakat pemilik kesenian tersebut.

Dalam karya seni tradisional tersirat pesan dari masyarakat Banjar berupa pengetahuan, gagasan, kepercayaan, nilai, norma dan sebagainya.

“Di Kalimantan kesenian khas tumbuh dan berkembang hingga saat ini. Kesenian itu berupa adat istiadat, tarian dan lainnya seperti Berikut tiga tarian tradisi Kalsel yang hingga kini masih ditampilkan,” kata Kepala UPTD Taman Budaya Provinsi Kalsel, Suharyanti, pada saat ditemui jurnalis Media Center di kantor setempat, Kamis (23/5/2019).

Menurutnya dari tiga tarian itu yang pertama tari Baksa Kembang adalah salah satu tarian klasik dari Kalimantan Selatan yang difungsikan sebagai tarian penyambut tamu.

“Tari ini biasanya dimainkan oleh penari wanita sebagai penari tunggal atau bisa juga dengan berkelompok dengan syarat jumlah penari harus ganjil,” ucapnya.

Kedua tarian Radap Rahayu yaitu kesenian klasik dari Banjarmasin Kalimantan Selatan yang merupakan salah satu tarian untuk menyambut tamu sebagai tanda penghormatan.

“Dan ketiga tari Zapin salah satu bentuk tari rakyat Kalimantan Selatan yang tumbuh dan berkembang di daerah pesisir timbulnya diperkirakan pada tahun 1930 di pesisir Sungai Barito kemudian menyebar di daerah Kabupaten Banjar” jelasnya.

Lanjut ia mengatakan untuk kesenian tradisional teater yang paling digemari yaitu kesenian Mamanda.

Kesenian Mamanda itu seperti seni teater atau pementasan tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan. “Dibanding dengan seni pementasan yang lain Mamanda lebih mirip dengan lenong dari segi hubungan yang terjalin antara pemain dengan penonton,” ungkapnya.

Lebih jauh ia mengatakan upaya untuk promosi kesenian tradisional dikalsel kita tetap menggunakan sosial media seperti Facebook, instgram, twiter dan yang lainnya.

“Kita juga ada program – program kegiatan pertunjukan tidak hanya dilingkup taman budaya tetapi kita mencoba ditaman edukasi, di kabupaten lain melalui sektor sesama dinas,” kata Suharyanti.

Maka melalui program ini minimal kan kita mempertunjukan subsidi pertunjukan seni aktivits yang kita buat dengan masyarakat sekitar.

Untuk itu dibidang kebudayaan ada program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) dan itu kerena arahnya kesekolahan baik SD, SMP, SMA dalam rangka memperkenkan kesenian bagi anak usia dini. “Oleh karena itu taman budaya secara tidak langsung pun, tidak dilembaga tetapi dilungkungan luar begini seperti ditaman edukasi kan sasarannya untuk anak – anak SD,” jelasnya.

Tujuan kita mempergelarkan kesenian itu untuk memperkenalkan kesenian yang ada di Kalsel bagi anak – anak SD sebagai perkenalan dan promosi kesenian kita.

Ia berharap sebagai lembaga taman budaya agar kita peduli dengan perkembangan kesenian untuk bagian kebudayaan bahwasanya masyarakat kalsel secara umumnya benar – benar bisa menikmati dan tau apa saja kesenian tradisional di Kalsel.

“Walaupun kita sudah berusaha melaui sekolah, masyarakat sekitar lebih bisa menikmati dan menjadikan aktifitas mereka dalam memperkenalkan kesenian bagi anak – anaknya,” pungkasnya. MC Kalsel/scw

Artikel telah dilihat : 21 kali.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *